Agenda Terkini:

LPTT Bandung mengajak anda mahasiswa (S1 & S2) untuk terlibat menjadi RELAWAN Lingkungan bersama LPTT Bandung. Informasi/Pendaftaran: 08170213972 / @LPTT_Bandung

Sabtu, 23 Juli 2016

Penyuluhan Bank Sampah di Desa Cipeundeuy

LPTT Bandung telah menempati kantor baru di Jl. Rereng Adumanis No.47 Bandung. Kesibukan pindahan kantor pasti selalu diikuti kesibukan lanjutan yaitu berbenah ruangan dan penempatan ulang seluruh perlengkapan dan dokumen-dokumen kantor. Setiap staf akan kebagian jatah sibuk tambahan ini tentunya.

Namun demikian bukan berarti lantas agenda-agenda di luar kantor dan di luar Bandung akan terabaikan. Seperti pada hari Sabtu 23 Juli 2016 ini, tim LPTT Bandung masih bisa terlibat berpartisipasi mengisi penyuluhan dan pelatihan tentang Bank Sampah di komunitas warga RT.02 RW.07 Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Acara penyuluhan dan pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan kelompok mahasiswa UPI Bandung yang tengah terjun langsung belajar mengaplikasikan ilmunya  di masyarakat. Perwakilan tim LPTT Bandung menjadi pengisi materi dalam kegiatan ini.

[Musholla warga menjadi tempat pemaparan materi penyuluhan bank sampah oleh tim LPTT Bandung di desa Cipeundeuy. 23/07/16]
Antusiasme warga nampak terlihat dari begitu banyak warga yang terlibat berpartisipasi dalam acara ini didominasi para ibu-ibu rumah tangga. Beberapa pengurus warga dan tokoh wargapun nampak hadir terlibat dalam kegiatan ini.

Musholla menjadi tempat pemaparan materi pelatihan yang disampaikan tim LPTT Bandung, dilanjutkan dengan sesi praktek langsung di sekitar lokasi pemukiman dan halaman musholla.
Sesi praktek tentang bank sampah diisi dengan demonstrasi tentang bagaimana menjalankan pengelolaan bank sampah. Dimulai dengan sesi mengumpulkan berbagai jenis sampah yang bisa disetorkan ke bank sampah, proses pemilahan sampah yang bisa masuk bank sampah sesuai jenisnya, hingga proses penimbangan dan pencatatan kedalam buku bank sampah warga dan pengelola.

[Masyarakat peserta pelatihan/penyuluhan antusias mencari dan mengumpulkan sampah di sekitar kampung lokasi kegiatan untuk disetorkan di bank sampah. 23/07/16]

Antusiasme warga semakin nampak saat sesi praktek, mulai dari saat mengumpulan sampah yang dicari di sekitar kampung lokasi pelatihan, hingga proses penimbangan dan pencatatan kedalam pembukuan bank sampah. Nampak warga yang didominasi peserta ibu-ibu bahu membahu mengumpulkan sampah yang bisa disetor ke bank sampah, hingga bahu membahu dalam proses penimbangan dan pencatatan.


[Setelah warga mengumpulkan sampah dan memilahnya, proses praktek selanjutnya adalah menimbang dan pencatatan di buku bank sampah. 23/07/16]
Kegiatan semacam ini memang patut untuk dipilih dan dijalankan, selain memiliki potensi besar meningkatkan nilai tambah ekonomi warga, juga mampu menjadi jalan tetap terjalinnya proses-proses silaturahmi dan gotong royong warga secara berkelanjutan. Selain itu tentu saja mendorong warga makin melek akan kegiatan yang mendorong proses-proses tertib diri melalui kegiatan pencatatan dan pengelolaan bank sampah yang berkelanjutan. (Ded).

* * * *

Jumat, 15 Juli 2016

Kunjungan AIESEC Univ. Telkom ke Bank Sampah SEHATI

Hallo rekan-rekan !
Masih melanjutkan kegiatan AIESEC Universitas Telkom yang sedang didatangi kawan-kawannya dari luar negeri. Setelah beberapa hari lalu mereka difasilitasi oleh LPTT dalam sharing pengalaman plus pelatihan seputar pengelolaan sampah, kali ini kawan-kawan ini melanjutkan agendanya dengan melakukan kunjungan ke Bank Sampah SEHATI di RW.09 Kelurahan Cipadung Kidul Bandung.

Mengatasi persoalan sampah masih belum tuntas jika hanya dengan jalan pengomposan dan pengelolaan sampah-sampah organik, masih perlu tindakan-tindakan lainnya jika ingin sebesar mungkin masalah sampah bisa diatasi.
Untuk mengatasi persoalan sampah non organik yang masih bisa didaur ulang dan dimanfaatkan ulang ada beragam solusi yang bisa dilakukan, salah satunya adalah melalui kegiatan bank sampah komunitas warga yang saat ini sangat populer di banyak kota besar di Indonesia.

LPTT Bandung sudah bertahun-tahun berrgelut dalam kampanya dan praktek-praktek langsung pengelolaan bank sampah bersama komunitas dampingannya, salah satunya di tempat yang kali ini dikunjungi oleh para mahasiswa AIESES dari beberapa negara lain. Pengalaman konkrit di masyarakat inilah yang menjadi poin penting yang bisa dibagikan kepada para mahasiswa ini, tentu saja selain agar aksi-aksi seperti ini semakin besar gaungnya di masyarakat, juga agar satu ketika kegiatan-kegiatan semacam ini bisa menjadi inspirasi bagi para generasi muda terutama mahasiswa yang kelak akan terjun membangun cita-citanya dalam masyarakat, dimanapun mereka berada.

Berikut beberapa gambar yang sempat diabadikan tim fasilitator LPTT Bandung, semoga menginspirasi. (Ded)



[Sambutan pada tim AIESEC oleh pengurus setempat diisi pemaparan informasi terkait Bank Sampah SEHATI]



[Para mahasiswa AIESEC dari beberapa negara asing turut mengikuti kegiatan kunjungan ke Bank Sampah SEHATI]



[Pastinya selalu ada sesi foto bersama antara tuan rumah dan para tamu, agar bisa nampang di sosmed tentu salah satunya, hehe.]


* * * *

Jumat, 22 April 2016

Para Kartini Komunitas dan Hari Bumi

Tidak dapat dipungkiri perempuan saat ini sudah mengokohkan perannya dalam berbagai gerakan perubahan dalam masyarakat, termasuk dalam upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup.
Bulan April ini setidaknya ada dua momentum penting yang bisa menjadi inspirasi upaya-upaya pembaharuan dalam masyarakat dan dunia modern, yaitu peringatan hari Kartini pada 21 April dan Peringatan Hari Bumi Internasional yang diperingati setiap 22 April.

LPTT Bandung selama bertahun-tahun telah mengembangkan kolaborasi dengan berbagai komunitas warga yang peduli terhadap upaya penyelamatan lingkungan hidup di tingkat lokal, dan pada kenyataannya berbagai komunitas ini mayoritas didominasi oleh kalangan perempuan, baik itu kalangan ibu-ibu di tingkat RW  maupun para perempuan-perempuan muda yang berperan penting pada organisasi-organisasi lingkungan hidup komunitas.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan mitra dan komunitas jaringan LPTT Bandung pada dua momen penting bulan ini (hari Kartini dan hari Bumi Internasional) yang mayoritas digerakkan oleh para kartini di tingkat komunitas.

Komunitas Bank Sampah Bumi inspirasi yang banyak dimotori oleh para kartini muda pada 21 April 2016 terlibat dalam event Pasar Sehat 1000 Kebun di Balai Kota Bandung. Event yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Kartini ini juga menjadi kegiatan dalam memperingati perayaan hari Bumi Internasional pada 22 April setiap tahunnya.


(Aktivis dari Komunitas Bank Sampah Bumi Inspirasi tengah melakukan edukasi pada kegiatan Pasar Sehat 1000 Kebun, bertempat di Balai Kota Bandung, 21/04/2016)

Kiprah para kartini juga nampak kental pada kelompok bank sampah ASAH di RW 16 Sukapada Bandung, dalam sebuah aktivitas operasionalisai bank sampah yang terekam pada bulan ini terlihat para ibu menjadi penggerak kegiatan bank sampah di tingkat warga ini.


( Para ibu aktivis lokal menjadi penggerak kegiatan bank sampah ASAH RW 16 Sukapad. Proses menyortir dan menimbang menjadi salah satu kegiatan rutin dalam operasionalisasi Bank Sampah )


Peran para kartini dalam upaya penyelamatan lingkungan hidup juga terlihat pada salah satu momen yang terkam pada 21 April 2016 di Bank Sampah Neglasari Makmur RW 04 Padasuka Bandung. Kemasan-kemasan bekas yang bagi banyak orang masih dipandang sebagai sampah tak berguna bisa dikelola dan bernilai di tangan para kartini lokal yang penuh keuletan.


( Kegiatan Penyortiran sampah di Bank Sampah Neglasari Makmur RW 04 Padasuka ,21/04/2016 )

Peran kartini di tingkat komunitas ini bukan hanya tercermin lewat kegiatan rutin operasionalisasi Bank Sampah, namun juga dalam peran edukasi dan kampanye. Seperti pada salah satu momen di komunitas Bank Sampah Teratai di RW 02 Babakan Andir Padasuka. Salah satu pegiat Bank Sampah menerima kunjungan studi kalangan pelajar dari SMA 24 Bandung. Proses kampanye dan edukasi menjadi bagian penting gerakan penyelamatan bumi melalui kegiatan Bank Sampah Komunitas.

( Pengelola Bank Sampah Teratai RW 02 Babakan Andir Padasuka tengah memberikan penjelasan pada siswa-siswa SMA 24 Bandung )

Pada akhirnya selalu ada buah manis yang dipetik dari setiap upaya dan proses yang dijalankan sekecil apapun. Seperti pada momen dimana kelompok-kelompok Kartini Komunitas ini mendapatkan apresiasi/penghargaan pada Green Carnaval yang diselenggarakan oleh Pikiran Rakyat Jabar di kota Bandung. Bersama Pak Sugiri sebagai Koordinator Fasilitator Paguyuban Bank Sampah Kota Bandung, dua kelompok bank sampah yang notabene dijalankan oleh para ibu berhasil meraih juara 1 dan 2 pada event ini.
 

( Bapak Sugiri (tengah) bersama para 'Kartini Juara' dan perwakilan HU Pikiran Rakyat berfoto bersama pada momen apresiasi juara di event Green Carnaval )


Tetap semangat berjuang para penyelamat bumi dan masa depan peradaban, ibu dan komunitas menjadi pondasi penting dalam gerakan ini. Selamat Hari Kartini 21 April dan Hari Bumi Internasional 22 April 2016 (LPTT/Ded).


* * * *


Jumat, 29 Mei 2015

Pelatihan Pengelolaan Bank Sampah Gusus SD Lalareun Majalaya


[Beberapa peserta pelatihan pengelolaan bank sampah SDN Lalareun Ibun Majalaya]
Gerakan menggaungkan upaya pengelolaan sampah sejak dari sumber terus dilakukan LPTT Bandung melalui berbagai kesempatan, bukan hanya dalam program-program yang dijalankan di Bandung, namun juga dalam berbagai kegiatan yang melibatkan LPTT Bandung di luar kota.

Seperti pada 28 Mei 2015, ketika LPTT mendapat kesempatan mengisi materi pelatihan tentang pengelolaan bank sampah bagi para guru gugus SDN Lalareun di desa Pangguh kecamatan Ibun Majalaya. Meskipun tema utama pelatihan yang diselenggarakan panitia adalah tentang pengelolaan bank sampah, namun LPTT tetap menjadikan persoalan sampah dan model pengelolaannya sejak dari sumber atau hulu menjadi materi awal yang disajikan bagi para peserta, dan tentu saja mendorong pengelolaan sampah organik melalui proses sederhana tak luput dipaparkan dalam rangkaian materinya.

Kegiatan yang dimulai pada jam 09.00 WIB dimulai dengan sesi pembukaan dan sambutan dari beberapa pihak, baik itu panitia dan para pendukung kegiatan, seperti Dompat Dhuafa Corpora (DD Corpora) sebagai panitia pelaksana, kepala sekolah SD Lalareun sebagai tuan rumah kegiatan, perwakilan UPTD Kecamatan Ibun, serta perwakilan pihak GM PT Pertamina GEA Kamojang sebagai pihak sponssor yang sekaligus membuka acara.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi sesi pertama tentang prinsip dan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumber. Memahai bagaimana sesungguhnya proses terjadinya sampah dari hulu hingga berakhir di hilir yang kerap menjadi masalah besar yang lebih rumit.

Sampah organik merupakan sampah yang dominan dihasilkan dalam rantai produksi sampah di masyarakat kita, sehingga mengetahui dan mampu mengelola sampah organik merupakan suatu hal yang penting dimiliki oleh para peserta. Metode pengomposan yang mudah dan murah serta sumber daya yang ada di sekitar lingkungan masyarakat menjadi solusi yang ditawarkan tim LPTT Bandung pada sesi awal ini. Sesi pertama ini diakhiri dengan diskusi dan praktek membuat kompos dari bahan-bahan yang ada di sekitar dengan cara mudah dilakukan.

[Pemateri LPTT Bandung memperagakan model pengomposan sederahan yang mudah dan murah]

Sesi kedua dilaksanakan setelah ISHOMA pada pukul 13.00 WIB. Pada sesi ini, materi yang disampaikan mengenai Bank Sampah, mulai dari mengenali potensi sampah yang ada, mengenal jenis-jenis sampah yang bisa dikelola hingga proses manajemen Bank Sampah. Peserta dikenalkan dengan proses administrasi Bank Sampah yang sederhana, serta mencari Bandar yang bisa diajak kerjasama dalam penjualan sampah yang disetorkan nasabah.

Pelatihan ini bertujuan untuk menggugah kesadaran para peserta akan persoalan sampah yang membawa dampak bukan hanya pada masalah lingkungan namun juga masalah sosial, serta memperkaya pengetahuan tentang pengelolaan sampah agar dapat diwariskan kepada anak-anak didik sehingga melahirkan generasi-generasi yang peduli terhadap lingkungan.

Sedangkan dalam lingkup yang lebih kecil harapannya pelatihan paling tidak memberi dan memperkuat informasi tentang persoalan sampah dari hulu hingga hilir, serta bagaimana cara mengelolanya dengan metode yang tidak perlu rumit dan mahal, seperti komentar yang dilontarkan para peserta bahwa pelatihan in paling tidak memberikan informasi dan pengetahuan baru tentang pengelolaan lingkungan hidup, serta mengelolanya dengan cara yang mudah, murah, dan sederhana.

Bahkan dalam lingkup bagi internal peserta khususnya dari pihak SD Lalareun menjanjikan implementasi nyata dari pelatihan ini adalah akan berusaha menerapkan konsep acara nol sampah pada acara kenaikan kelas yang akan diselenggarakan bulan Juni 2015 nanti. (Den/Ded).

* * * * 



Minggu, 29 Maret 2015

LPTT Bandung di SD Alam Pelopor Rancaekek

(Foto kegiatan sosialisasi pengelolaan lingkungan)
Efek domino manfaat bank sampah yang digaungkan LPTT Bandung terus menjalar hingga ke beberapa wilayah di luar kota Bandung. Kali ini kesempatan berbagi informasi diminta oleh pengelola SD Alam Pelopor.

Sekolah yang terletak di jalan Kaktus nomor 100 Rancaekek ini mengundang tim LPTT Bandung berbagi pengetahuan praktis tentang pengelolaan lingkungan bagi masyarakat dan sekolah. Kegiatan ini yang terselenggara pada 28 Maret 2015 ini dimulai dari sekitar jam 9.00 hingga lewat tengah hari. Dihadiri oleh perwakilan guru, orang tua murid, serta para siswa SD Alam Pelopor Rancaekek. 

Adalah kang Dadeng Sukendar yang kali ini mendapatkan tugas dari LPTT Bandung untuk  menjadi pendamping dan fasilitator dalam menyajikan materi sosialisasi tentang pengelolaan lingkungan secara praktis, tentu saja di dalamnya tak luput dipaparkan model pengelolaan sampah organik melalui pengomposan sederhana. Selain itu sebagai ‘komandan’ dari program bank sampah LPTT Bandung maka sudah pasti kang Dadeng tak luput membawakan informasi tentang bank sampah dan pengorganisasiannya sebagai model pengelolaan sampah nonorganic skala komunitas warga.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk pemaparan dan diskusi mengenai pengalaman sekolah dan orang tua siswa dalam mengelola lingkungan khususnya pengelolaan sampah ini ternyata antusias diikuti oleh para peserta. Ini terbukti dari keinginan para guru yang berencana membentuk bank sampah di sekolah, serta para orang tua murid yang akan mengembangkan kegiatan pertanian di area pekarangan rumah yang kini populer dengan sebutan urban farming sebagai imbas dari upaya pengelolaan sampah organik melalui kegiatan pengomposan. 

Melalui acara di SD Alam Pelopor ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada warga sekolah tentang pentingnya mengelola lingkungan hidup, terutama mengelola sampah, serta menjadikan sekolah sebagai sarana pembelajaran yang memandang alam sebagai hal penting satu kesatuan dengan ilmu pengetauan, serta tentu saja dapat menegenalkan contoh konkrit model pengelolaan sampah kepada guru, siswa dan orang tua murid.

Kegiatan ditutup dengan mengulas beberapa kesimpulan yang didapat dari proses yang berlangsung, dibawakan oleh salah satu inisiator SD Alam Pelopor bapak Rohmanur Aziz.
Ada beberapa kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan ini, diantaranya seperti cara pandang masyarakat terhadap lingkungan berpengaruh terhadap bagaimana mereka mengelola lingkungannya, hingga saat bagaimana pesoalan lingkungan tidak dianggap mendesak untuk ditangani oleh masyarakat itupun terjadi sebagai dampak dari cara pandang tadi. 

Selain itu muncul pula pemahaman bahwa tujuan dari pendidikan adalah perubahan akhlak yang tercermin dalam sikap dan perbuatan, dimana upaya pendidikan lingkungan hidup adalah salah satu metode mengembalikan harkat derajat manusia sebagai makhluk sempurna yang tidak hanya menghasilkan kecerdasan pada materi-materi pembelajaran sekolah, tapi bagaimana pola perilaku yang mencerminkan mencintai lingkungan.

Selamat berkarya para pegiat pendidikan SD Alam Pelopor, semoga dapat membawa manfaat bagi sebanyak-banyaknya masyarakat. Dimulai dari lingkungan sekolah sebagai pelopor. (ARH-Ded).

* * * 

Minggu, 14 Desember 2014

APRESIASI KEGIATAN BANK SAMPAH TAHUN 2014

Foto Bersama pada Apresiasi Bank Sampah, Gedung Bumi Madani ICMI Orwil Jawa Barat (6/12/2014) 

Lembaga Pengebangan Teknologi Tepat (LPTT) merupakan lembaga yang sampai tahun 2014 ini masih konsern di bidang pengeolaan lingkungan khususnya pendampingan Bank Sampah yang sasarannya adalah Bank Sampah di tingkat RW/kommunitas. Dalam hal ini LPTT bekerjasama dengan Yayasan Unilever Indonesia (YUI) sebagai lembaga yang membantu pendampingan ke masyarakat. Khusus di tahun 2014 ini LPTT dan YUI bekerjasama di dalam hal pelatihan dan pendampingan Bank Sampah.

Sampai bulan Desember 2014, Bank Sampah yang telah LPTT bina dan dampingi sebanyak 58 Bank Sampah. Bank Sampah terebut meliputi Bank Sampah kategori silver 4 Bank Sampah, 10 Blue dan 34 masuk pada kategori white. Semakin meningkat kualitas dan kuantitas kegiatan di bank Sampah semakin naik pula nilai bank sampah yaitu dari grade White, Blue, Silver, Gold sampai dengan Platinum.

Kegiatan Apresiasi bank sampah merupakan satu langkah yang tiap tahunnya mesti ada untuk mengajak dan member semangat di dalam mengelola sampah. Tidak dapat disangkal bahwa salah satu ujung dari beresnya permasalahan di Kota Bandung bukan karena adanya bank sampah, proses penyelesaian sampah yang harus dilakukan mulai dari tingkat rumah oleh masyarakat itu sendiri. Dalam hal ini salah satu bagian sari masyarakat yang harus diapresiasi kinerjanya adalah masyarakat yang mau mengelola sampahnya sendiri.


Bank Sampah sebagai sebagai metode pengelolaan sampah yang bisa dan mudah dilakukan oleh masyarakat memiliki tujuan mengurangi timbunan sampah dan menggali nilai yang lebih dari sampah itu sendiri.

Tujuan dari kegiatan Apresiasi ini adalah memberikan motivasi dan spirit mengelola sampah di Kota Bandung, membentuk kemandirian mengelola sampah, melatih jiwa kepemimpinan di dalam mengelola sampah ditingkat komunitas, mendorong semangat mengalola sampah melalui kegiatan Bank Sampah di tingkat komunitas/RW. Hadir pada kegiatan Apresiasi Bank Sampah ini RW pelaku Bank Sampah di Kota Bandung, Paguyuban Fasilitator Green and Clean Kota Bandung meliputi 45 pengurus Bank Sampah dan 5 orang dari Paguyuban Fasilitator Green and Clean. Hadir pula dari PD Kebersihan Kota Bandung Bapak Jemarun. (LPTT:2014)

Jumat, 31 Oktober 2014

Pembentukan Asosiasi Pengelola Sampah Indonesia

[Suasana diskusi dalam kegiatan pembentukan Asosiasi Pengelola Sampah Indonesia di DANDENMA SESKO TNI, Jl. Martanegara 11 Bandung, 31/10/14]

SESKO TNI siap menjadi tempat edukasi dan pengelolaan sampah, serta siap membantu masyarakat dalam mengelola sampah. Demikian salah satu pesan yang disampaikan Letkol Alnur saat membuka diskusi pembentukan Asosiasi Pengelola Sampah Indonesia, pada hari Jumat 31 Oktober 2014 di aula DANDENMA SESKO TNI, Jl. Martanegara No.11 Bandung.

Kegiatan yang terselenggara atas inisiatif LPTT Bandung bersama Yayasan Simon Sanjaya ini diikuti sebanyak empatpuluh orang peserta, yang merupakan para pelaku bank sampah di kota Bandung serta anggota paguyuban fasilitator green and clean binaan LPTT di Bandung.

LPTT Bandung melihat pentingnya upaya menghimpun para pelaku bank sampah di Bandung dalam sebuah wadah mengacu pada Undang-Undan No.18, tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, khususnya sebagai wujud aksi masyarakat dalam mengelola sampah di lingkungannya.

Wadah yang kemudian disepakati berbentuk asosiasi ini juga menjadi upaya membangun sinergi antara para pengelola sampah di tingkat RW di kota Bandung. Bahkan bukan hanya pengelola sampah binaan LPTT, melainkan individu-individu dan kelompok-kelompok masyarakat di tingkat warga yang saat ini semakin banyak melakukan upaya mengelola sampah secara swadaya di lingkungan tempat tinggalnya.

Dalam sesi pemaparan narasumber, bapak Rohadji Trie memulai pemaparannya dengan kata
kunci bahwa semua yang ada di muka bumi ini memiliki nilai manfaat, termasuk sampah sekalipun. Beliau menyinggung juga bahwa pembentukan asosiasi ini menjadi sebuah gerakan dari masyarakat dalam mengelola nilai manfaat dari sampah. Melalui asosiasi diharapkan akan banyak muncul inovasi yang dilakukan sehingga persoalan sampah akan semakin cepat terselesaikan.


Sedangkan bapak Simon sebagai pemilik Yayasan Simon Sanjaya dalam pemaparannya menyinggung tentang masih rendah dan langkanya produksi kompos, sehingga diharapkan dengan adanya asosiai pengelola sampah ini akan mendorong upaya membangun kedaulatan kompos di masyarakat.

Dalam sesi interaksi peserta mengungkapkan harapan agar ada program-program yang nyata dan jelas yang bisa dilakukan masyarakat setelah dibentuknya asosiasi ini, serta berharap pemerintah bisa merangkul masyarakat pelaku pengelola sampah di Bandung.

Kegiatan pembentukan asosiasi pengelola sampah ini diakhiri dengan pembentukan Tim Formatur Asosiasi Pengelola Sampah Indonesia, yang akan menindaklanjuti kegiatan ini dengan membentuk struktur kepengurusan oleh tim formatur yang sudah terbentuk. (ARH - Ded)


* * *