Agenda Terkini:

LPTT Bandung mengajak anda mahasiswa (S1 & S2) untuk terlibat menjadi RELAWAN Lingkungan bersama LPTT Bandung. Informasi/Pendaftaran: 08170213972 / @LPTT_Bandung

Senin, 09 Februari 2015

Update Proses Pembangunan Biodigester LPTT di Gedebage Bandung

Curah hujan masih tetap tinggi mengguyur Bandung dan sekitarnya. Kawasan gedebage tak luput dari guyuran hujan hampir setiap hari, termasuk di lokasi pembangunan biodigester LPTT di pasar induk Gedebage Bandung.
Meski curah hujan tinggi namun proses pembangunan biodigester OSATA yang tengah digarap LPTT Bandung di pasar induk gedebage bisa tetap berjalan sesuai jadwal yang direncanakan.

Berikut beberapa gambar terbaru kondisi pembangunan biodigester dalam tahap pengecoran wadah utama atau reaktor biodigester OSATA yang sudah memasuki tahap persiapan pengecoran dinding wadah/reaktor.

Foto-foto diambil pada 9 Februari 2015





* * *

Minggu, 01 Februari 2015

Update Proses Pembangunan Biodigester LPTT di Gedebage Bandung

Awal minggu pertama di bulan Februari 2015 ini matahari sangat hangat bersinar, bersahabat dengan aktivitas pembangunan biodigester OSATA (Pengolah Sampah Organik Perkotaan) LPTT Bandung yang tengah terus berjalan di pasar induk gedebage bandung.

Aktivitas di awal minggu ini adalah pengecoran lantai utama reaktor (tabung beton) yang akan menjadi wadah pemrosesan sampah organik pasar menjadi gas dan pupuk (padat dan cair).

Beberapa gambar yang sempat diambil dari lokasi pembangunan biodigester menunjukan rangkaian rangka besi beton sebagai bagian dari konstruksi lantai utama ruang pengolahan sampah organik yang akan berbentuk menyerupai tabung yang akan ditanam di dalam tanah, pada bagian atas atau atap tabung ini kelak akan berbentuk kubah dari beton. Semoga cuaca tetap bersahabat bersama proses pengecoran yang tengah berlangsung saat ini.


[Konstruksi lantai digester OSATA LPTT di pasar induk gedebage yang siap dicor]
* * *

Senin, 19 Januari 2015

Update Pembangunan Biodigester Pasar Induk Gedebage

Musim hujan masih terus mengguyur kota Bandung, termasuk di kawasan pasar induk Gedebage Bandung. Jika minggu lalu proses pembangunan biodigester sampah organik OSATA (Pengolah Sampah Organik Perkotaan) di pasar induk Gedebage dimulai dengan penataan lahan dengan alat berat backhoe, minggu ini pekerjaan dilanjutkan dengan proses menggali ruang utama untuk dijadikan dudukan tapak biodigester, pemasangan cucuk-cucuk bambu dan aktifitas yang berkaitan dengan pekerjaan penyiapan pengecoran pondasi alas utama ini.

Berikut beberapa gambar yang sempat didokumentasikan oleh tim LPTT Bandung dari lokasi kegiatan pembangunan instalasi biodigester OSATA.

[Lubang utama dudukan tapak biodigester selesai digali]
[Pemasangan cucuk-cucuk bambu pada lubang tapak oleh pekerja]
[Proses pengerjaan lanjutan penyiapan pondasi pasca penyucukan]

(Dokumentasi LPTT Bandung)

* * * *

Senin, 12 Januari 2015

Tahap Awal Pembangunan Biodigester Pasar Induk Gedebage

Pembangunan instalasi pengolah sampah organik dengan biodigester di pasar induk Gedebage Bandung akan segera terwujud. Setelah pada Desember 2014 lalu dimulai dengan sosialisasi dan diskusi bersama para petugas kebersihan pasar induk Gedebage, awal januari tahun 2015 kegiatan di lokasi dimulai dengan penyiapan lahan pembangunan instalasi.

Alat berat backhoe digunakan untuk membuka jalan masuk ke lokasi rencana pembangunan instalasi, selain itu alat berat ini bekerja optimal untuk meratakan, mengurug, hingga membongkar sisa-sisa timbunan material tidak terpakai di lokasi yang sulit dikerjakan malalui tenaga konvensional manusia.

Beberapa gambar yang diambil dari lokasi menunjukan aktivitas alat berat yang tengah beroperasi membongkar, menggali ataupun meratakan tanah.

[Lokasi pembangunan biodigester sampah organik di pasar induk Gedebage Bandung]

[Alat berat Backhoe tengah mengurug dan meratakan lahan di areal pembangunan biodigester sampah organik pasar induk Gedebage]

Program ini merupakan kerjasama beberapa pihak, antara lain KLH, Pemkot Bandung, PD Pasar Kota Bandung, PD Kebersihan Kota Bandung, AECOM, CCROM, serta LPTT Bandung.

Di sela-sela pemantauan di lapangan, beberapa perwakilan dari pihak-pihak di atas menyempatkan diri untuk berfoto bersama mengabadikan moment awal dari inisiasi yang tengah bergulir ini.

[Foto bersama disela-sela monitoring, perwakilan KLH, CCROM, AECOM, Konsultan dan PD Pasar]


* * * *


Senin, 14 April 2014

OSATA, Bagian Dari Pengelolaan Sampah Kota Secara Terpadu

[ Atap kubah dari model reaktor Pengolah
Sampah Kota (OSATA) LPTT Bandung]
Populasi penduduk yang jauh lebih tinggi serta konsumsi yang jauh lebih besar menjadikan perkotaan ibarat sosok penghisap yang lebih rakus dibanding pedesaan. Pada kenyataannya kondisi ini akan berbanding lurus dengan besarnya jumlah limbah (sampah, hingga polutan) rata-rata yang dibuang oleh kota dibanding pedesaan. Gambaran ini menjadi fakta umum hampir di semua kota besar dan padat di dunia, termasuk kota Bandung.

Kepadatan dan jumlah penduduk kota Bandung yang jauh lebih tinggi dibanding desa-desa ataupun kabupaten lain di Jawa Barat membuat konsumsi pangan dan energi jauh lebih tinggi, serta .
menghasilkan buangan limbah yang lebih besar pula.

Pada akhirnya muncul desakan dan tuntutan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi untuk mengelola sampah dan energi secara terpadu. Prinsip pengelolaan secara terpadu ini mutlak dilakukan mengingat persoalan konsumsi, gaya hidup, sampah, dan keterbatasan kawasan kota menjadi bagian masalah yang saling berkaitan (sistemik). 
Aspek-aspek ini saling memberi dampak satu dengan lainnya, apalagi jika populasi penduduk yang tinggi tidak diimbangi upaya membangun kualitas pengetahuan dan kesadaran yang memadai di masyarakat, tentu akan menjadi beban persoalan yang makin rumit.

Sampah menjadi masalah penting (strategis) dan mendesak (urgent) untuk segera direspon secara terpadu di perkotaan, apalagi kota tidak mungkin terus-menerus bertumpu pada ruang dan luasan lahan tersentralisasi untuk mengelola beragam jenis sampah yang tidak lagi bisa diurai secara alami serta cepat. Butuh solusi yang saling berkait (sistemik), terpadu dan selaras atau saling mendukung.
 
Salah satu model solutif mengelola sampah organik menjadi kompos dan energi terbarukan adalah dengan mengurainya didalam reaktor biogas (biodigester). Teknologi ini bukan sebuah barang baru. Model ini telah dikenal luas, bahkan banyak pengembangan model reaktor dengan prinsip yang tetap sama.

Namun demikian hingga hari ini gaung pemanfaatan teknologi tepat yang solutif dan ramah lingkungan ini masih sangat minim jika dibanding dengan besarnya potensi yang tersedia untuk dikelola. Bahkan sangat disayangkan ketika perkotaan menyumbangkan persoalan sampah organik yang jauh labih berarti dari desa namun justru kota masih sangat minim memanfaatkan teknologi tepat ini. Bahkan kota Bandungpun hingga hari ini hanya memiliki contoh pemanfaatan biogas belum mencapai seratus unit saja di masyarakat. Jumlah yang sangat sedikit jika dibanding potensi dan produksi sampah organik yang dihasilkan kota ini.

Akumulasi informasi, akses, teknologi serta kreatifitas boleh jadi didominasi kota Bandung, namun ternyata pemanfaatan teknologi tepat yang mampu memberikan kontribusi positif mereduksi sampah kota nampak belum menjamur.

[ Proses pembangunan ruang/lubang utama reaktor pengolah sampah
organik 80-100 KK di areal rumah tinggal Pak Rohadjie Tri, 11/04/2014 ]

Tujuan penting dari model biogas ini adalah mereduksi sampah organik dengan mengubahnya menjadi material 'penghidup' atau kompos (padat dan cair), melalui proses pembusukan/penguraian alami di dalam ruang tertutup. Selain itu model penguraian yang dominan tertutup (an-aerob) dalam biogas ini umumnya dimanfaatkan untuk menangkap gas metana (CH4) untuk kemudian dijadikan sumber energi baru. Pemanfaatannya secara sederhana umumnya dengan menjadikan gasnya sebagai bahan bakar (memasak).

Meskipun dengan membakarnya secara sederhana namun proses ini mampu mengubah metana (CH4) menjadi karbondioksida (CO2) secara berarti. Metana (CH4) memberikan efek rumah kaca sekitar 20 hingga 21 kali lipat lebih kuat daripada karbondioksida (CO2).

Saat membakar CH4 (menjadi api kompor) kita mereaksikan CH4 menjadi CO2. Pembakaran satu molekul metana dengan oksigen akan nelepaskan satu molekul karbondioksida (CO2) dan dua molekul air (H2O). Sehingga melalui teknologi ini perkiraannya mampu mengurangi efek rumah kaca melalui dua manfaat, yaitu selain dengan manangkap metana (CH4), juga mereaksikan metana (CH4) menjadi karbondioksida (CO2).

Kembali pada bahasan solusi biodigester atau alat pembusuk/pengurai material organik melalui bakteri, secara praktis di masyarakat perlu gaung kampanye dan upaya yang lebih giat untuk memberi bukti yang dapat ditiru masyarakat. Ini juga barangkali yang menjadi alasan Pak Rohadjie Tri, awal minggu lalu membangun reaktor biogas di areal sekitar rumahnya. Memberi contoh langsung sebagai bukti terdekat bagi masyarakat.

Memang sangat rasional, seharusnya model ini secara terintegrasi mampu menjadi salah satu bagian dari sistem terpadu pengelolaan sampah pemukiman perkotaan. Bahkan dengan mudahnya akses, informasi, dan teknologi yang digunakannya, model biodigester sampah organik pemukiman ini harusnya semakin besar gaungnya di masyarakat, harus semakin mudah diakses teknologinya, dan harus bisa dibangun dengan biaya yang cukup murah dalam skala komunal.

Hingga pada saatnya kelak, ketika masyarakat telah konsisten mengelola sampahnya mulai dari rumah, mengompos dengan model komposter rumah tangga, kemudian dipadukan dengan model-model pengelolaan sampah organik tingkat warga komunal, secara berarti mampu mengurangi jumlah sampah yang keluar dari rumah dan komunal. Bahkan yang terjadi kelak adalah komunitas warga menghasilkan 'penghidup' baru bagi kotanya berupa kompos dan energi terbarukan (Ded).


* * *